Tidak usah jadi PNS

Hari ini adalah hari kesaktian Pancasila. Selamat ya!

Seperti biasa, di hari spesial seperti ini, ada apel yang harus kuikuti dan aku harus mengenakan pakaian korpri. Sangat teridentifikasi sebagai seorang PNS. Pantas sajalah jika sepulang aku bekerja, aku disapa oleh seorang yang tak kukenal,

“Dek, udah jadi PNS ya? Enak ya jadi PNS”.

Aku hanya tersenyum, tak bisa banyak menjawab karena aku teringat akan tumpukan pekerjaan yang masih harus kuselesaikan. Begitukah di benak orang-orang? Bahwa menjadi seorang aparatur sipil negara sungguh bergunung-gunung enaknya, hingga banyak orang menggantungkan PNS sebagai cita-cita, persis seperti yang dibilang Bang Robbi Gandamana dalam artikelnya.

Aku menyadari memang ada benarnya tulisan Bang Robbi. Banyak yang terlena ketika jabatan sudah di tangan. Banyak yang keenakan saat sudah lupa dengan kata demi kata dalam sumpah jabatan. Fenomena oknum PNS mulai dari mereka yang mati-matian kerja hanya mengejar kursi, hingga mereka yang susah payah bekerja hanya untuk memperkaya diri, memang sudah tak asing lagi.

Sesungguhnya jika diberi kesempatan untuk didengarkan, tak akan habis aku bercerita tentang teman-temanku yang rela berjauhan dengan keluarga, suami, atau istri untuk berangkat memenuhi panggilan negeri. Salah satu contohnya, rekan kerja di ruangan sebelahku, belum genap dua bulan menikah, kini mereka belum bisa tinggal seatap lagi karena adanya tugas instansi. Sang istri di Kalimantan dan sang suami di kota metropolitan.

Tak akan habis juga aku bercerita perjuangan teman-temanku yang mengorbankan seluruh jam istirahat karena harus menjadi sebenar-benar pelayan rakyat. Sudah bosan rasanya aku melihat postingan teman-teman yang rela habiskan waktu akhir pekan untuk tetap berkutat menyelesaikan tanggungan kerjaan.

Tak akan habis juga aku bercerita jatuh bangun teman-temanku mengorbankan jiwa raga untuk menjalankan tanggung jawab sebagai abdi negara. Masih lekat di ingatanku, salah seorang kawan yang kukenal sejak 6 tahun lalu, beberapa waktu lalu harus meregang nyawa ketika sedang menjalankan tugas negara. Semoga Allah merahmatimu, kawan.

Dan aku juga masih bisa bercerita tentang teman-temanku yang bisa berprestasi dengan benar-benar memberi solusi permasalahan akar rumput negeri. Di pulau seberang misalnya, Pulau Sumatera, seorang temanku kini sudah mendirikan yayasan pendidikan yang memberi dampak pada ribuan anak di pelosok negeri, ia benar-benar sadar akan eksistensinya untuk menjadi solusi.

Aku hanya bisa bercerita tentang teman-temanku, agar kamu tau, bahwa mereka memang nyata adanya, hanya saja mereka tak terekspos oleh media. Mereka sudah tenang dengan kondisi seperti itu, karena sadar Tuhan Maha Tahu.

Jadi, untukmu yang akan mendaftar PNS tahun ini, kusarankan tidak usah lagi bercita-cita menjadi PNS. Iya, tidak usah kau jadi PNS jika tujuanmu hanya seperti yang dibilang Bang Robbi :

“Durasi kerja pendek ( 37, 5 jam seminggu), gaji lumayan, tunjangan okelah, tanpa PHK, tanpa target, Sertifikat laku digadaikan, jaminan pensiun di hari tua dan sebagainya”.

Karena kau tau? Negara butuh manusia lebih dari itu.

Baca artikel Robbi Gandamana disini.

2 thoughts on “Tidak usah jadi PNS”

    1. Singkatnya, bukan begitu jalur perjuangan yang aku rasakan. Aku berjuang menjadi PNS melalui jalur sekolah ikatan dinas. Belajar 4 tahun, kemudian diangkat setelah mengikuti serangkaian proses yang harus dirasakan.

Tinggalkan Balasan ke suryoyok Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *