Kenapa Belum Menikah?

“Sur.. Thoughts?”

Notifikasi direct message Instagram berbunyi. Temanku mengirimkan artikel tentang alasan mengapa anak muda ingin segera memangkas masa lajangnya. Sebuah artikel yang ditulis oleh Esti Dyah Imaniar.

Aku tertawa seberes membacanya. Tertawa secara harfiah, bukan sekadar tulisan ‘haha’ saja. Aku tertawa karena kelucuan artikel ini. Jenaka. Bagaimana tidak, Mbak Esti menulis berbagai dasar ‘berbau islami’ yang sedikit memprovokasi pembaca untuk kembali berfikir ketika ingin menikah cepat. Seolah menggiring opini para pembaca untuk “Ah, toh mereka cepat menikah malah berujung banyak masalah. Mending tunda dulu sajalah.”

Aku pun membaca ulang artikel itu, berharap akan dapat tertawa lebih lebar lagi. Tapi ternyata tidak. Aku tersindir begitu dalam, ternyata itu adalah artikel sarkasme, yang bertujuan tidak sekadar memprovokasi.

Mbak Esti seolah menyindir generasi muda masa kini yang galau karena perkara yang sangat sepele. Ia melihatnya dari fenomena menye-menye anak muda di sosial media, karena hal-hal yang sangat sederhana.

Sudah seharusnya generasi muda banyak berkaca. Ketika mereka hanya berkutat pada pembicaraan masalah ‘kapan nikah’, tugas kuliah, bahkan sesepele diskonan murah, bertahun-tahun lalu ada pemuda belasan tahun yang sibuk memikirkan strategi perang agar tidak kalah. Ketika mereka dengan bangganya dapat menaklukan hati wanita, dapat menjadi juara lomba, atau bahkan sesepele mendapatkan followers ribuan banyaknya, bertahun-tahun lalu ada pemuda yang sudah bisa bertahta menjadi raja, bahkan berhasil menaklukan sebuah kota. Seharusnya generasi muda masa kini, termasuk aku, banyak berkaca pada pemuda itu, Muhammad Al-Fatih.

Beberapa kali saya menanyai teman-teman lajang yang rajin ikut seminar pranikah, nonton film galau islami, atau dengerin nasyid bertabur janji cinta atas nama Allah: Kenapa sih kalian kebelet sekali menikah?

Sepertinya ada disitu letak keliru. Tidak sepantasnya kita tanyakan alasan mengapa mereka berduyun-duyun ke KUA, tentu mereka berikhtiar dalam memenuhi separuh agama. Pun banyak yang sudah berbekal ilmu untuk mengarungi rumah tangga, meskipun banyak juga yang belum tuntas menguasainya. Mereka menikah dengan tekat mendekatkan diri pada-Nya, bukan hanya memenuhi syahwat belaka, semoga saja ya.

Jadi jika memang sudah mampu, menikahlah. Namun jika belum siap, maka kita diajarkan untuk berpuasa; bersabar. Bukan malah memprovokasi atau mendaftar ratusan bukti yang menjadi excuse untuk menunda menikah. Karena seperti rezeki lain yang kita perlu ikhtiar untuk mendapatkannya, jodoh demikian juga. Ia akan datang tepat pada waktunya, namun tentu kita perlu memperjuangkan dan mempersiapkan, melalui ilmu dan terus memperbaiki diri utamanya.

Baca artikelnya disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *