Dua Tahun Berjuang

Malam ini aku tidak bisa tidur. Teringat memori dua tahun lalu, harus berangkat ke perantauan. Harus berangkat memulai kompetisi kehidupan. Karena satu hal; penempatan.

Dua tahun sudah aku di tanah rantau, alih-alih mengabdi untuk ibu pertiwi. Jika boleh jujur, ada ratusan hal yang bisa aku syukuri di tanah perantauan, meskipun sebenarnya masih ada ribuan hal yang bisa aku keluhkan. Namun tetap, aku punya pilihan untuk menunjukkannya, atau menerima begitu saja.

Salah satu hal terberat yang sering aku keluhkan adalah jauh dari ayah dan ibu. Masih teringat jelas senyum dan tatapan sok tegar dari bapak dan ibuku ketika anak terakhirnya ini harus berangkat ke pulau seberang. Demikian pula denganku, melemparkan senyuman palsu untuk menunjukkan bahwa “iya, aku bisa masak sendiri kok Bu, aku bisa mengurus diri sendiri kok Pak. Aku baik-baik saja.” Padahal nyatanya, aku sama sekali belum tau.

Lanjutkan membaca Dua Tahun Berjuang