Dua Tahun Berjuang

Malam ini aku tidak bisa tidur. Teringat memori dua tahun lalu, harus berangkat ke perantauan. Harus berangkat memulai kompetisi kehidupan. Karena satu hal; penempatan.

Dua tahun sudah aku di tanah rantau, alih-alih mengabdi untuk ibu pertiwi. Jika boleh jujur, ada ratusan hal yang bisa aku syukuri di tanah perantauan, meskipun sebenarnya masih ada ribuan hal yang bisa aku keluhkan. Namun tetap, aku punya pilihan untuk menunjukkannya, atau menerima begitu saja.

Salah satu hal terberat yang sering aku keluhkan adalah jauh dari ayah dan ibu. Masih teringat jelas senyum dan tatapan sok tegar dari bapak dan ibuku ketika anak terakhirnya ini harus berangkat ke pulau seberang. Demikian pula denganku, melemparkan senyuman palsu untuk menunjukkan bahwa “iya, aku bisa masak sendiri kok Bu, aku bisa mengurus diri sendiri kok Pak. Aku baik-baik saja.” Padahal nyatanya, aku sama sekali belum tau.

Namun, hal yang cukup menguatkanku adalah aku tidak sendiri merasakan semua ini. Ada ratusan kawan yang juga merasakannya. Kami sama-sama berjuang, meski banyak dari kita yang berbeda medan perang. Ada yang berjuang dalam berbakti pada ayah ibu dari kejauhan, ada yang berjuang menumpuk rindu karena belum sepenempatan dengan pasangan, ada yang berjuang mencoba tetap bertahan ditempa rutinitas dan pekerjaan, dan ada perjuangan-perjuangan lain yang kini dirasakan oleh ratusan kawan.

Kami sama-sama berjuang. Kami sama-sama mencoba menjadi pemenang. Iya, memenangkan diri sendiri, apakah sudah menjadi pribadi yang lebih kuat lagi. Apakah sudah menjadi pribadi yang pandai mensyukuri nikmat yang diberi, bukan mengeluhkan ujian yang sebenarnya membuat diri menjadi lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *