Bagimu mungkin sepele, tapi tidak bagiku

Kuusap air mata seberes menulis artikel ini. Iya, rasanya sedrama itu jika mengingat betapa luka di masa kecilku masih membekas hingga kini. Banyak orang mungkin menganggap ini sepele, namun bagi seorang Suryo kecil, bully-an itu membekas dan menggoreskan luka yang dalam. Sudah lama cerita ini kupendam sendiri. Paling, hanya beberapa kali ketika hati sudah tak dapat lagi menampung beratnya celaan, aku hanya bisa menangis dan berbisik pada-Nya “Ya Allaah…”

Begini ceritanya. Tahun 2003, Indonesia diramaikan dengan sinetron hits “Si Yoyo” yang tayang di RCTI pada pukul 20.00 WIB. Aku masih ingat betul, banyak dari kita yang bersiap menontonnya seusai salat isya. Bagi banyak orang, si yoyo yang memiliki keterbelakangan mental menjadi guyonan yang sangat menghibur, tapi tidak bagiku.

Ketika aku kecil, aku dipanggil “yoyo” oleh orang di sekitarku. Dan karena namaku sama seperti tokoh di sinetron itu, aku pun harus menanggung bully-an sana sini. Aku kerap dibully dengan nyanyian soundtrack Si Yoyo dengan tatapan yang menganggap “Eh, Si yoyo di RCTI itu idiot lho, kamu juga ya?”.

Bagimu mungkin ini sepele, tapi tidak bagiku.

Setiap keluar rumah, tetangga melemparku dengan nyanyian soundtrack sinetron itu, bahkan ada yang memintaku untuk memerankan bagaimana gaya si yoyo berbicara. Dan bodohnya aku, kuikuti kemauan mereka. Hanya bisa melakukannya agar aku bisa diterima dan menjadi teman mereka. Mereka tertawa, menganggapnya goyunan, tapi tidak bagiku.

Bapak dan ibuku yang setiap hari harus dinas bekerja tak bisa menjadi pelarianku. Alih-alih cari perhatian dari bapak dan ibuku, aku malah mendapatkan respons sebaliknya: kena marah. Kalau diingat-ingat, dulu aku memang kelewatan dalam mencari perhatian mereka. Mengacaukan kolam ikan peliharaan bapakku dengan berenang di dalamnya dan membuat mati ikan-ikannya, mengobrak-abrik rumah sampai kakak-kakaku kewalahan, hingga menggunakan uang tabungan teman sekelas untuk main PS! Iya, senakal itu. Kala itu, aku butuh pelarian, aku mencari perhatian.

Bagimu mungkin ini sepele, tapi tidak bagiku.

Aku menanam dendam yang besar pada lingkungan. Hingga bermodalkan dendam, aku berusaha menunjukkan prestasiku. Aku ingin dipandang bahwa aku bukan anak yang terbelakang.

Kemudian, aku menjadi bintang kelas tanpa celah, sejak kelas satu hingga kelas enam setiap cawu mendapatkan ranking satu. Akupun dua tahun berturut-turut mengikuti kompetisi paling bergengsi ketika aku SD, yaitu lomba siswa teladan sampai tingkat provinsi mewakili kabupatenku. Iya, dua tahun berturut-turut karena aku sudah diikutkan sejak aku tingkat empat bertanding melawan kakak-kakak kelas dari berbagai kabupaten lain di Jawa Tengah.

Tidak sampai di situ. Ketika SMP, aku tak pernah membayar biaya semesteran atau uang pembangunan sekolah, bahkan berkali mendapat uang tabungan karena mendapatkan penghargaan atas juara-juara pada lomba yang kuikuti. Bermacam kompetisi kuikuti mulai dari lomba berbasis agama, kesenian, hingga olimpiade.

Bagimu mungkin ini sepele, tapi tidak bagiku.

Sebenarnya, hingga kini aku pun tak lepas dari bully. Karena semasa kecil aku berada dalam lingkungan yang membuatku tertekan tanpa pelarian, akhirnya itu menjadikanku bertumbuh sedikit “berbeda” dari yang lain. Untuk kalian yang telah lama mengenalku, pasti paham bagaimana orang membullyku tanpa mereka sadari. Hingga kini.

Kau paham kan maksudku? Iya. Ketika orang memberikan deskripsi tentangku, mereka munculkan label, “Oh, Suryo yang me****ai itu ya?”. Mereka memunculkan label atas diriku yang bagi mereka sepele, namun sebenarnya menjadi luka yang dalam bagiku. Bahkan, sampai sekarang pun label itu masih kusensor karena masih menjadi luka yang entah apa obatnya.

Sekali lagi, bagimu mungkin ini sepele, tapi tidak bagiku.

Jujur, sebelumnya, sama sekali tak pernah aku bicarakan tentang ini. Karena merasa malu dan hina atas masa laluku. Pun bagi mereka yang merasakan ini, dari beberapa riset yang kulakukan, membuktikan bahwa banyak dari mereka yang juga malu atas kekurangan diri, hingga tak tahu kemana harus berlari.

Inilah yang kemudian menjadikanku tumbuh dalam dunia yang tak lepas dari memberi kepedulian pada anak dan remaja. Berbagai kegiatan sosial hingga konferensi nasional maupun internasional yang fokus pada isu anak dan remaja, kerap kuikuti sebagai bentuk langkahku bahwa aku ingin anak dan remaja di sekitarku tak mengalami luka yang sama denganku. Mereka harus menyadari, bahwa di sekitar mereka ada orang-orang yang peduli.

Bagimu mungkin ini sepele, tapi tidak bagiku.

Garis merah dapat kutarik. Dulu, mungkin aku ingin menemui orang-orang yang melemparkan tatapan merendahkanku, kemudian menunjukkan pada mereka bahwa aku tidak seidiot itu. Dulu, mungkin aku ingin memarahi orang-orang yang memberikan label “berbeda” padaku, kemudian mengungkapkan seluruh luka yang tak pernah kulupa.

Tapi tidak dengan sekarang. Kurasa, aku ingin berterima kasih atas semua hinaan yang mereka lontarkan, aku ingin berterima kasih atas seluruh label yang mereka berikan. Dan sungguh aku ingin berkata pada mereka dan juga padamu yang membaca tulisan ini,

Jangan lakukan itu pada orang lain, ya! cukup aku saja yang dulu merasakannya. Karena candaan itu bagimu mungkin sepele. Tapi tidak bagi orang yang kau candai.

Dan jika kamu kini sedang merasakan bully-an sana sini, ingat, kau punya Allah. Atas kehendak-Nya, kau pun punya masa depan. Biarkanlah saja mereka yang membullymu. Maafkanlah. Karena Tuhan tak pernah lupa, karena Tuhan selalu terjaga. Jangan menyerah. Semoga semua berakhir baik-baik saja 🙂

2 thoughts on “Bagimu mungkin sepele, tapi tidak bagiku”

  1. Masya Allah, syukron jazakallahu khairan kak Suryo. Berkat tulisan kakak, muncul dalam diri saya kepercayaan diri lagi walaupun hanya secuil. Terima kasih juga sudah mendengarkan cerita-cerita kami di Instagram ^^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *