Sepucuk Surat Untuk Ibu

Sebuah kisah fiksi.

Matahari muncul malu-malu ditemani lembayung langit pagi. Riuh tilawah Alquran dalam masjid berangsur sunyi. Satu per satu jemaah melaksanakan salat Isyroq, kemudian mengistirahatkan badan seusai lelah menghidupkan malam.

“Bip!”, telepon genggamku berbunyi, “Aku pamit pulang kampung dulu. Jaga tanah rantau baik-baik, ya, Mas!”, sebuah pesan dari sahabat baikku, sontak menyemarakkan kerinduan pada kampung halaman.

Ini adalah kali ketigaku menghabiskan bulan Ramadan di perantauan. Biasanya, Ramadan adalah momen bersama keluarga. Berbuka bersama keluarga dan bercengkerama usai tarawih selalu menambah kehangatan Ramadan. Ah, aku jadi makin rindu.

Tak dapat menahan rasa, di pojok masjid aku mencoba bercerita lewat pena pada orang yang paling kurindu: Ibu.

Lanjutkan membaca Sepucuk Surat Untuk Ibu