Sepucuk Surat Untuk Ibu

Sebuah kisah fiksi.

Matahari muncul malu-malu ditemani lembayung langit pagi. Riuh tilawah Alquran dalam masjid berangsur sunyi. Satu per satu jemaah melaksanakan salat Isyroq, kemudian mengistirahatkan badan seusai lelah menghidupkan malam.

Bip!”, telepon genggamku berbunyi, “Aku pamit pulang kampung dulu. Jaga tanah rantau baik-baik, ya, Mas!”, sebuah pesan dari sahabat baikku, sontak menyemarakkan kerinduan pada kampung halaman.

Ini adalah kali ketigaku menghabiskan bulan Ramadan di perantauan. Biasanya, Ramadan adalah momen bersama keluarga. Berbuka bersama keluarga dan bercengkerama usai tarawih selalu menambah kehangatan Ramadan. Ah, aku jadi makin rindu.

Tak dapat menahan rasa, di pojok masjid aku mencoba bercerita lewat pena pada orang yang paling kurindu: Ibu.

 

Bumi Allah, 27 Ramadan 1440H

 

        Assamu’alaikum, Ibu. Semoga ibu selalu dalam lindungan Allah.

Bu, maaf, Ramadan tahun ini anakmu tidak pulang lagi. Tapi tenang, aku di sini sehat, masih bisa sahur dan buka puasa dengan cukup. Tiap sore beragam jajanan pasar, es buah warna-warni, hingga makanan berat tersedia di masjid ketika aku hendak berbuka. Masjidnya sungguh istimewa, hingga seringkali membuat aku lupa bahwa di seberang sana ada yang setiap berbuka harus ditemani luka dan tangisan air mata.

Mereka adalah saudara kita, Bu. Seperti Ali bersama keluarganya. Beberapa hari lalu kudengar mereka sedang berjuang mati-matian untuk bisa bertahan di tanahnya sendiri. Jangankan untuk makan cukup sepertiku di sini, untuk minum air bersih ketika buka puasa saja kesulitan. Dentuman bom dan rintikan fosfor kerap menjadi menu buka dan sahur mereka.

Kondisinya sungguh mencekam. Orang berlarian ketika rudal dijatuhkan oleh tentara Israel. Tak ayal, tangis ikhlas kepergian keluarga sudah menjadi rutinitas mereka.

Sementara itu, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara …” (QS. Al-Hujurat:10). Mendengar itu pun aku bertanya pada diri sendiri, “Di mana aku ketika saudaraku membutuhkanku? Mungkin, langkah awal yang bisa kulakukan adalah berdoa dan membantu mereka dengan menyumbangkan sedikit tabungan yang kupunya; tabungan yang seharusnya kugunakan untuk membeli tiket pulang kampung. Tidak apa-apa, kan, Bu? Bukankah bersedekah adalah satu dari tiga amalan utama di bulan Ramadan yang seharusnya kita lakukan? Hehe. Maafkan anakmu yang pandai berkilah ini, Bu.

Sebenarnya aku melakukan ini karena aku tahu bahwa yang ibu butuhkan sekarang bukanlah kehadiranku. Namun, lantunan doaku agar Allah merahmatimu.

Aku melakukan ini juga karena aku tahu bahwa yang ibu butuhkan sekarang bukanlah kepulanganku. Namun, pundi-pundi rupiah yang aku sedekahkan atas namamu.

Izinkan aku menjadi amal jariahmu, Ibu. Semoga lebaran tahun depan aku bisa mengunjungi makammu dan makam bapak di sebelahmu. Amin.

 

Air mata pun menetes. Menyadari bahwa tulisanku sudah tak dapat lagi dibaca Ibu. Tiga tahun ditinggal pergi, ternyata aku sudah serindu ini. Semoga Allah mengumpulkan kami di surga suatu saat nanti.

Aku melayangkan tatapan ke luar jendela masjid. Mengingat bahwa Allah sungguh baik, senantiasa memberikan kecukupan padaku. Aku pun harus terus ingat bahwa meski dunia yang kurasakan saat ini aman, tenteram, hingga bisa berbuka dengan minuman yang menyegarkan, bukan berarti seluruh dunia juga demikian. Nyatanya, di luar sana; Palestina, Uighur, Rohingya, Suriah, Yaman; masih ada saudara kita yang melewati Ramadan yang sama, namun merasakan manis yang berbeda. Semoga ujung kesegaran iman kita sama: surga.

One thought on “Sepucuk Surat Untuk Ibu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *