Diseret Responden ke Kantor Polisi

Ini sebuah kisah lucu. Tetapi, jangan kamu berharap ini akan menghiburmu. Ini hanya menjadi catatan untukku, jika suatu saat aku jenuh bekerja, kubisa membukanya dan semoga melukiskan senyum di tengah penat menerpa.

Hari ini, aku bertugas menjadi petugas lapangan (pewawancara) untuk sebuah survei kerjasama antara BPS, Inspektorat, dan KPK; Survei Penilaian Integritas. Salah satu respondennya adalah masyarakat yang pernah menggunakan layanan publik dari Dinas.

Hari senin. Aku menghubungi responden satu per satu melalui telepon untuk membuat janji kapan dan di mana bisa dilakukan wawancara. Hingga sampailah pada seorang responden wanita, yang…..sebut saja namanya Mawar. Tap! Kuketuk telepon ke nomornya. Singkat cerita, aku dan mawar telah sepakat. Kami akan bertemu hari Jumat, pukul 14.00 WITA di rumahnya untuk wawancara.

Hari rabu, aku kembali pastikan beberapa responden yang akan aku wawancarai pada hari jumat, salah satunya mawar. Seorang perawat gigi ini tidak membalas chatku, entah mengapa. Aku berfikir, “Ah, mungkin dia pikir perjanjian sebelumnya sudah bulat, Jumat pukul 2 sore, tak bisa diganggu gugat.”

Kamis pagi berlalu, belum juga mawar membalas pesanku.

Kamis siang pun berlalu, pesan whatsappku hanya bertanda centang dua biru.

Kamis sore mulai menyapa, aku mulai resah. Aku mengirimkan pesan padanya, “Bagaimana Kak? Saya bisa datang besok sore pukul 2?” Dan dia….typing! Begitu girang aku menanti jawabannya. Setidaknya, hanya ada dua kemungkinan yaitu ‘jadi’ atau ‘tidak jadi’, begitu pikirku. Ternyata aku salah.

“Ini siapa? Mengapa saya terpilih menjadi narasumber wawancara anda?”

Pesan darinya meruntuhkan tembok harapan yang sudah kubangun sejak beberapa hari lalu. Mawar pun bertanya ini dan itu. Sepertinya dia mulai ragu untuk aku dan dia bertemu. Mungkin karena jadwalnya yang padat, atau entah apa aku tak berani menerka. Sebenarnya, aku agak kesal karena kemarin sudah berkeputusan seiya-sekata, tapi tiba-tiba ia ragu dan banyak tanya.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Segala sesuatu yang merintangi wawancara ini, harus disingkirkan, termasuk keraguan Mawar. Setelah tawar menawar dan penjelasan panjang dibumbui dengan sedikit pemaksaan, akhirnya Mawar memberi jawaban pasti.

“Baik. Besok sekitar jam dua sampai tiga, saya tunggu di Polres, karena saya ada kegiatan di Polres.”

Alhamdulillah. Akhirnya sesuai jadwal awal. Hatiku gembira layaknya seorang calon mantu yang diterima bahagia oleh ayah mertua. Aku tidak berpikiran macam-macam, hanya berpikiran kalau besok harus wawancara dengan efisien karena akan mengganggu kegiatan Mawar di Polres.

Malam telah terlewati, pagi pun kuantar pergi. Jumat siang, pukul satu lebih tiga tujuh aku bersiap datang ke Polres Kabupaten Penari untuk menemui Mawar. Long story short, aku telah sampai di Polres dan kusapa petugas yang berjaga di pos jaga.

“Pak Saya Suryo, dari BPS mau ketemu dengan perawat gigi, lagi ada kegiatan katanya di Polres. Di mana tepatnya ya Pak?”

“Perawat gigi? Oh, mungkin dia anggota marching band yang di lapangan itu. Kegiatan siang ini di kantor hanya itu. Nggak ada yang lain,” jawab Pak Polisi sembari mengacungkan tangannya ke tengah lapangan.

Firasat buruk mulai muncul. “Duh, masak wawancara di tengah lapangan? Eh sebentar. Tapi dia kan perawat gigi, ngapain jadi anggota marching band di kantor polisi?” gumamku. Aku yang ragu pun akhirnya mengeluarkan telepon genggamku, dan kutelepon Mawar.

“Halo, saya Suryo, Mbak.”

“Halo? Iya? Sudah di Polres?” Suara laki-laki terdengar dari ujung sana.

Kenapa mawar menjadi lelaki? Jangan-jangan…ah sudahlah. Aku pun menjawab, “Iya, ini nomor Mbak Mawar kan? Saya sudah di Polres. Di dekat pos jaga”.

Dia tidak menjawab apa-apa, dan memutuskan telepon begitu saja. Aku semakin curiga. Karena sudah telanjur basah, kutunggu saja mawar di lobby Polres, sembari aku mengabarinya bahwa aku sudah di Lobby.

Dua belas menit sudah aku menanti. Dering teleponku pun tiba-tiba berbunyi. Mawar! Akhirnya.

“Dimana Mas? Ke ruangan ujung kanan sekarang, ya! Saya di sini.”

Aku gembira tiada kepalang. Langkah demi langkah mengantarku pada ruangan itu. Setibanya, sudah ada seorang wanita di sana, lengkap dengan seorang lelaki yang sepertinya tadi mengabariku, ditambah lagi tiga orang polisi. Bertatap tajam penuh arti. Terduduk rapi di kursi. Aku senyum, salam, memperkenalkan diri, dan segera mengambil posisi duduk di kursi terdekat tanpa diberi instruksi. Tiba-tiba……

“Mana surat tugasnya? Mas sebenarnya siapa? BPS kantornya di mana? ….”

Tanya demi tanya keluar dari orang yang duduk di lingkaran itu. Aku serasa dihakimi oleh para penegak keadilan. Aku merasa dipojokkan dengan hujaman pertanyaan. Pertanyaan yang sebenarnya telah ditanyakan Mawar via whatsapp sehari lalu. Aku yang sudah berhadapan dengan responden di depan mata hanya bisa sabar menjawab satu per satu. “Bodo amat, responden di depan mata. Aku harus bisa mengalahkan pertanyaan mereka semua,” tekadku.

Sementara aku bertanya jawab, seorang lelaki misterius di samping Mawar asyik mendokumentasikan kami. Mengambil foto dari berbagi sudut ruangan, memfoto surat tugasku, id cardku, hingga mengambil video dari momen ini. Geli rasanya.

Dan hingga ketika ada celah di tengah-tengah tanya jawab, aku pun memotongnya, “Ada pertanyaan lagi? Kalau sudah tidak ada, boleh kan saya mewawancarai Mbak Mawar?”

Aku mulai wawancara dengannya, kemudian mempersilakan Mawar menjawab daftar pertanyaan pada pertanyaan-pertanyaan self enumeration.

Sembari Mawar menjawab daftar pertanyaan, aku kembali ditanya oleh polisi dan lelaki paruh baya di ujung kursi itu. Lelah rasanya. Pun tiba-tiba Mawar yang sedang asyik menjawab daftar pertanyaan ikut serta bertanya, “Kenapa bisa saya yang jadi narasumber sih, Mas?”.

Hap! Pertanyaan mudah! Aku pun sengaja menjawab panjang lebar tentang sistematika pemilihan sampel survei ini. Mulai dari penjelasan angka random, aplikasi yang digunakan, cara mendapatkan frame populasi, lengkap dengan penjelasan apa itu sistematik random sampling. Haha, tawaku dalam hati ketika melihat mereka mengernyitkan dahi. Dan ujungnya, Mawar kembali melemparkan tatap pada daftar pertanyaan dan kembali menjawab di kuesioner yang ada.

Aku kemudian berkali-kali meminta maaf karena mengganggu kegiatan Mawar, kukira, ia sedang sibuk berkegiatan di Polres itu. Entah apa kegiatannya aku pun masih belum mengetahuinya. Seberes ia menjawab semua pertanyaan dan salam basa-basi, ia pamit bersama lelaki misterius yang duduk di sampingnya. Ketika keluar dari ruangan, lelaki misterius itu berkata padaku, “Tunggu sebentar di sini ya Mas, saya ada titipan.”

“Apa-apaan ini!” Kesabaranku semakin diuji. Rasanya ingin segera pergi karena sudah lelah dengan dipermainkan responden seperti ini.

Belum selesai aku berserapah dalam hati, salah seorang polisi kembali membuka pembicaraan, “Mas, tau nggak? tadi itu yang laki-laki adalah suaminya Mawar. Mereka mengira pian (arti: kamu, bahasa banjar) penipu. Karena takut ditipu, jadilah Mawar bilang ke suaminya. Dan suaminya yang kenal dengan kami pun meminta waktu pada kami untuk menemani, untuk jaga-jaga siapa tau pian beneran penipu. Jadi kami bisa langsung menjadi saksi.”

“Lah. Jadi Mbak Mawar sebenarnya nggak ada kegiatan di Polres ini?”

“Nggak. Sidin (arti: beliau, bahasa banjar) memang begitu. Kami sudah hafal dengan anehnya tingkah sidin, bikin emosi juga. Kasihan suaminya, ya. Makanya kami bantu.”

Aku hampir saja tertawa ketika tau ini semua. Aku dikira pencuri. Setelah sebelumnya pernah dikira dokter, pegawai KPK dari Pusat, salesman kredit motor, kali ini aku dikira pencuri. Mendapatkan data memang kadang ada-ada saja ceritanya. Responden memang ada-ada saja tingkahnya.

Beberapa menit kemudian, suami Mawar masuk ke ruangan membawa plastik berisi banyak roti, “Mas, ini untuk pian. Maaf ya Mas, kami sudah salah sangka.”

Senyum pun merekah. Seusai berterima kasih dan membagikan sebagian roti pada polisi yang berjaga, aku pamit tak sabar menceritakan kisah ini pada tim dan teman di kantor.

***

Beginilah salah satu dari sekian banyak cerita para pencari data. Iya, laskar pencari data. Data mesti dicari. Karena meski data ada di mana-mana, seringkali ketika dibutuhkan malah tidak ada di mana-mana, makanya perlu laskar pencari. Laskar pejuang data yang memotret keadaan dan realita Indonesia.

Semoga setiap lelahku dan teman-temanku bisa berbuah kebaikan yang kekal. Amin. Jangan lupa tahun depan ada Sensus Penduduk 2020 ya!

3 thoughts on “Diseret Responden ke Kantor Polisi”

  1. Wkwkwk…. maaf ngakak.
    Tapi mending begitu sih daripada langsung ditodong golok. Masih ada ada kesempatan untuk menjelaskan.. hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *