Yah, Kita Bisa Apa.

“Kamu mau, pindah ke sini?”

Akhir November 2020, aku mendapatkan tawaran pindah kerja ke kantor di ibukota; Hal yang tak pernah terlintas untuk menjadi rencana yang ingin kucapai. Sudah satu setengah tahun terakhir, aku sibuk mempersiapkan studi lanjut. Aku sungguh ingin sekali kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan sejak baru mendapat gelar sarjana.

Persiapan matang pun sudah dilakukan jauh hari. Mulai dari belajar GRE, IELTS, menulis draft esai statement of purpose dan esai lain, hingga kepo-kepo ke para mentor dan senior yang sepertinya mereka sudah bosan aku tanya ini dan itu.

Namun ternyata, takdir berkata lain.

Seberes tes IELTS di Jogja, aku pulang ke rumah. Melihat kondisi ibuku yang sepertinya kurang sehat, aku mengajak beliau ke rumah sakit untuk kontrol. Ternyata, setelah melihat hasil cek lab, dokter spesialis dalam langsung meminta ibuku untuk opname. Ginjal beliau kurang berfungsi maksimal, dan buruknya lagi, sang dokter mulai memberi peringatan bahwa kemungkinan ibuku harus cuci darah dalam beberapa bulan ke depan.

Tentu saja aku kaget. Sebelumnya, ibuku tidak pernah bercerita apapun jika beliau sakit ginjal. Ibu mana yang mau menceritakan kondisi sedih pada anaknya. Apalagi ketiga anaknya tinggal jauh darinya. Pasti beliau tidak ingin membuat kami kepikiran. Dan hal itulah, yang membuatku berpikir, sepertinya ini pertanda dari Allah agar aku menerima tawaran untuk pindah tempat kerja ke tanah jawa. Agar bisa dekat dengan Ibuk, agar bisa sering pulang ke rumah kapan pun dengan akses yang lebih mudah daripada jika aku tetap di Kalimantan.

Tawaran pun kuterima dengan mantap. Alih-alih membuat ibu bahagia ketika aku menceritakannya, ibu malah berpesan, “Nanti harus belajar banyak ya, kalau sudah di kantor pusat. Semoga ilmunya berkah.”. Semenjak lima enam tahun terakhir, obrolan kami banyak berbicara tentang hal-hal demikian. Mimpi yang ingin tercapai, saling mengungkapkan rasa sayang, dan tidak ragu menyampaikan maaf sesering mungkin. Aku pun sering bertanya tentang keinginan-keinginan ibuk yang belum tercapai untuk bisa kubantu capaikan. Ah….. jika mengingatnya, rasanya ingin kembali ke masa itu.

Di tengah kebulatan tekad ini, ternyata ada cobaan datang.

Tiba-tiba dalam waktu yang hampir bersamaan, dua orang profesor dari dua universitas yang berbeda negara menghubungiku kalau beliau menawarkan kursi untukku kuliah di tempatnya dan menjadi murid di penelitiannya. Ketika penelitian selesai pun, gelar master otomatis akan diperoleh. Tapi apa boleh buat, tekadku sudah bulat untuk pindah ke jawa dan menunda kuliah. Sayangku pada ibukku lebih besar dari pada cita-citaku sendiri. Hehe.

Sebulan, dua bulan menanti, ternyata belum ada kabar kelanjutan kepindahanku. Kata pimpinan di kantor pusat, memo sudah sampai di meja, tinggal eksekusi saja. Melihat kebelumjelasan ini pun atasanku di Kalimantan turut membantu mengikuti kabar karena mengetahui kondisi ibuku yang belum terlihat membaik. Bahkan aku sampai diikutkan ke program-program mutasi, kemudian beliau bantu menghubungi pimpinan di kantor pusat, dan lainnya. Aku bersyukur punya atasan yang sungguh baik.

Hingga tiba bulan ke empat, tiba-tiba kondisi ibuku semakin drop; harus masuk ke rumah sakit lagi. Tanpa pikir panjang, aku langsung pulang. Bapak sendiri di rumah, nggak mungkin kalau aku biarkan beliau harus mengurus ibu di rumah sakit. Pun, saat-saat menunggu ibu di rumah sakit, menjadi saat yang sungguh berharga untukku. Bisa ngobrol banyak dengan ibuk, bisa seharian pegang tangan ibu, bisa ngebantu ibu wudhu dan sholat, bisa menyuapi ibu makan, hingga bisa lekat-lekat menatap ibu tidur dengan napasnya yang sepertinya sangat lelah membesarkan ketiga anaknya. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah, Allah memberiku kesempatan di waktu-waktu itu untuk bisa semakin dekat dengan ibuk.

Hingga akhirnya, karena kondisi yang belum membaik, ibu dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Alhamdulillah, kondisi ibu membaik setelah dirawat kurang lebih sepekan. Meski harus memulai cuci darah setelah keluar dari rumah sakit. Aku pun memutuskan untuk kembali ke kalimantan karena ibu sudah boleh rawat jalan dan ada kedua kakakku serta istriku di rumah.

Sebelum aku kembali ke kalimantan, aku masih ingat, ketika terakhir berpelukan dengan ibu. Ibu masih sempat-sempatnya mendoakanku. Panjang sekali doanya. Seolah beliau tahu itu saat terakhir berpelukan denganku. Aku juga masih ingat responku, “Ibu habis ini pulang ke rumah, terus sehat. Nanti kalau cuci darah jangan takut ya, kan ada mbak irma, mbak veta, sama yoyo.” Sambil berpisah dengan ibu, seperti biasa, aku mencium kedua pipi dan keningnya. Aku memperlama momen itu.

Hingga lima hari kemudian, tiba-tiba mbak Veta meneleponku malam-malam.

“Yok, ibu udah nggak ada. Ibu meninggal.” suara mbak Veta terisak di sana.

Aku hanya diam. Tak tahu harus merespon apa. Wanita nomor satu yang paling kucinta sudah tiada, pergi untuk selamanya. Ternyata, Allah benar lebih sayang sama ibuk, tidak ingin membuat ibukku berlelah-lelah menahan sakitnya di dunia.

Esoknya, aku langsung terbang dari Kalimantan ke Jawa. Sesampainya di rumah, sudah ramai sekali orang yang akan mengantar ibu ke makamnya. Setelah aku mensholati ibuk, rombongan langsung membawanya ke pemakaman. Aku masih belum percaya, satu-satunya orang yang selalu kusandar, kupeluk, kucium, sekarang sudah tiada. Yang tidak pernah terlewat untuk menanyakan tiga pertanyaan wajib setiap hari; sedang apa, tadi makan sama apa, sudah sholat belum; ternyata kini sudah tidak ada pertanyaan itu lagi. Yah, kita bisa apa; berusaha sabar dan ikhlas. Allah sudah menggariskan semuanya, pasti ada hikmahnya.

Dua hari setelah ibu dimakamkan, ternyata muncul notifikasi surat kepindahanku ke kantor pusat. Mendapatkan kabar ini, aku tak tahu harus sedih, atau bahagia, atau bagaimana. Motivasi utama pindah untuk merawat ibu, kini sudah tiada. Tapi lagi-lagi, kita bisa apa; berusaha sabar dan ikhlas saja. Dan iya, aku jadi ingat pesan ibu sebelumnya, “Nanti harus belajar banyak ya, kalau sudah di kantor pusat. Semoga ilmunya berkah.”

Semakin ke sini semakin kusadari, Ibu sudah tiada. Sekaranglah tugasku untuk meneruskan perjuangannya untuk menjadi sebaik-baik amal jariyahnya dengan terus mendoa. Dan kini, saatnya juga untukku fokus pada satu pintu yang masih Allah beri kesempatan untuk terbuka, Bapak. Semoga Allah selalu jaga bapakku. Dan semoga Allah merahmati ibukku. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *