Yah, Kita Bisa Apa.

“Kamu mau, pindah ke sini?”

Akhir November 2020, aku mendapatkan tawaran pindah kerja ke kantor di ibukota; Hal yang tak pernah terlintas untuk menjadi rencana yang ingin kucapai. Sudah satu setengah tahun terakhir, aku sibuk mempersiapkan studi lanjut. Aku sungguh ingin sekali kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan sejak baru mendapat gelar sarjana.

Persiapan matang pun sudah dilakukan jauh hari. Mulai dari belajar GRE, IELTS, menulis draft esai statement of purpose dan esai lain, hingga kepo-kepo ke para mentor dan senior yang sepertinya mereka sudah bosan aku tanya ini dan itu.

Namun ternyata, takdir berkata lain.

Lanjutkan membaca Yah, Kita Bisa Apa.

Diseret Responden ke Kantor Polisi

Ini sebuah kisah lucu. Tetapi, jangan kamu berharap ini akan menghiburmu. Ini hanya menjadi catatan untukku, jika suatu saat aku jenuh bekerja, kubisa membukanya dan semoga melukiskan senyum di tengah penat menerpa.

Hari ini, aku bertugas menjadi petugas lapangan (pewawancara) untuk sebuah survei kerjasama antara BPS, Inspektorat, dan KPK; Survei Penilaian Integritas. Salah satu respondennya adalah masyarakat yang pernah menggunakan layanan publik dari Dinas.

Hari senin. Aku menghubungi responden satu per satu melalui telepon untuk membuat janji kapan dan di mana bisa dilakukan wawancara. Hingga sampailah pada seorang responden wanita, yang…..sebut saja namanya Mawar. Tap! Kuketuk telepon ke nomornya. Singkat cerita, aku dan mawar telah sepakat. Kami akan bertemu hari Jumat, pukul 14.00 WITA di rumahnya untuk wawancara.

Lanjutkan membaca Diseret Responden ke Kantor Polisi

Sepucuk Surat Untuk Ibu

Sebuah kisah fiksi.

Matahari muncul malu-malu ditemani lembayung langit pagi. Riuh tilawah Alquran dalam masjid berangsur sunyi. Satu per satu jemaah melaksanakan salat Isyroq, kemudian mengistirahatkan badan seusai lelah menghidupkan malam.

Bip!”, telepon genggamku berbunyi, “Aku pamit pulang kampung dulu. Jaga tanah rantau baik-baik, ya, Mas!”, sebuah pesan dari sahabat baikku, sontak menyemarakkan kerinduan pada kampung halaman.

Ini adalah kali ketigaku menghabiskan bulan Ramadan di perantauan. Biasanya, Ramadan adalah momen bersama keluarga. Berbuka bersama keluarga dan bercengkerama usai tarawih selalu menambah kehangatan Ramadan. Ah, aku jadi makin rindu.

Tak dapat menahan rasa, di pojok masjid aku mencoba bercerita lewat pena pada orang yang paling kurindu: Ibu.

Lanjutkan membaca Sepucuk Surat Untuk Ibu

Bagimu mungkin sepele, tapi tidak bagiku

Kuusap air mata seberes menulis artikel ini. Iya, rasanya sedrama itu jika mengingat betapa luka di masa kecilku masih membekas hingga kini. Banyak orang mungkin menganggap ini sepele, namun bagi seorang Suryo kecil, bully-an itu membekas dan menggoreskan luka yang dalam. Sudah lama cerita ini kupendam sendiri. Paling, hanya beberapa kali ketika hati sudah tak dapat lagi menampung beratnya celaan, aku hanya bisa menangis dan berbisik pada-Nya “Ya Allaah…”

Begini ceritanya. Tahun 2003, Indonesia diramaikan dengan sinetron hits “Si Yoyo” yang tayang di RCTI pada pukul 20.00 WIB. Aku masih ingat betul, banyak dari kita yang bersiap menontonnya seusai salat isya. Bagi banyak orang, si yoyo yang memiliki keterbelakangan mental menjadi guyonan yang sangat menghibur, tapi tidak bagiku. Lanjutkan membaca Bagimu mungkin sepele, tapi tidak bagiku

Dua Tahun Berjuang

Malam ini aku tidak bisa tidur. Teringat memori dua tahun lalu, harus berangkat ke perantauan. Harus berangkat memulai kompetisi kehidupan. Karena satu hal; penempatan.

Dua tahun sudah aku di tanah rantau, alih-alih mengabdi untuk ibu pertiwi. Jika boleh jujur, ada ratusan hal yang bisa aku syukuri di tanah perantauan, meskipun sebenarnya masih ada ribuan hal yang bisa aku keluhkan. Namun tetap, aku punya pilihan untuk menunjukkannya, atau menerima begitu saja.

Salah satu hal terberat yang sering aku keluhkan adalah jauh dari ayah dan ibu. Masih teringat jelas senyum dan tatapan sok tegar dari bapak dan ibuku ketika anak terakhirnya ini harus berangkat ke pulau seberang. Demikian pula denganku, melemparkan senyuman palsu untuk menunjukkan bahwa “iya, aku bisa masak sendiri kok Bu, aku bisa mengurus diri sendiri kok Pak. Aku baik-baik saja.” Padahal nyatanya, aku sama sekali belum tau.

Lanjutkan membaca Dua Tahun Berjuang

Jangan Mau Ditipu Sosial Media

Sosial media itu rumit, ya?

Hanya satu jam dua jam di depannya, namun sakit hati berhari-hari rasanya. Hanya sekali dua kali scroll di akun teman, tapi iri dengan dengki muncul tak tertahankan.

Pernah mengalaminya? Mendekatlah kesini, kawan. Kalau boleh aku ingin bicara padamu, dari hati ke hati. Lanjutkan membaca Jangan Mau Ditipu Sosial Media

Untukmu yang Kehabisan Waktu

Banyak dari kita yang merasa telah membuang waktu sia-sia.

Banyak dari kita yang tak tau beraktivitas untuk apa; pagi hingga sore bahkan malam sibuk bekerja, pulang hanya untuk tidur saja, dan parahnya akhir pekan digunakan untuk istirahat seharian atau malah untuk lembur kerja. Tak jarang kita merasa kehabisan waktu.

Maka, mendekatlah kesini kawan, kuberitahu sesuatu.

Lanjutkan membaca Untukmu yang Kehabisan Waktu

Kenapa Belum Menikah?

“Sur.. Thoughts?”

Notifikasi direct message Instagram berbunyi. Temanku mengirimkan artikel tentang alasan mengapa anak muda ingin segera memangkas masa lajangnya. Sebuah artikel yang ditulis oleh Esti Dyah Imaniar.

Aku tertawa seberes membacanya. Tertawa secara harfiah, bukan sekadar tulisan ‘haha’ saja. Aku tertawa karena kelucuan artikel ini. Jenaka. Lanjutkan membaca Kenapa Belum Menikah?

Tabik!

Tabik, sebuah kata yang baru kukenal dari membaca karya Bang Fiersa, yang artinya adalah suatu ungkapan untuk memberi salam. Akhir-akhir ini aku senang membaca memang. Dan sejak senang membaca, entah mengapa aku jadi senang menulis juga. Menulis banyak hal, tentang kebahagiaan, kekecewaan, pencapaian, hingga mungkin hal remeh-cemeh yang tiba-tiba muncul di angan.

Menulis ternyata menyenangkan: cukup melegakan dan menghibur hati yang kesepian. Kita bisa tersenyum saat membaca lagi tulisan kita. Entah senyum malu, bahagia, atau gumam “kok tulisanku sebodoh ini ya”. Meskipun seringkali menulis membuat frustrasi karena ide mentok di tengah tulisan atau bingung pilihan kata yang harus aku gunakan. Hehe. Lanjutkan membaca Tabik!