Diseret Responden ke Kantor Polisi

Ini sebuah kisah lucu. Tetapi, jangan kamu berharap ini akan menghiburmu. Ini hanya menjadi catatan untukku, jika suatu saat aku jenuh bekerja, kubisa membukanya dan semoga melukiskan senyum di tengah penat menerpa.

Hari ini, aku bertugas menjadi petugas lapangan (pewawancara) untuk sebuah survei kerjasama antara BPS, Inspektorat, dan KPK; Survei Penilaian Integritas. Salah satu respondennya adalah masyarakat yang pernah menggunakan layanan publik dari Dinas.

Hari senin. Aku menghubungi responden satu per satu melalui telepon untuk membuat janji kapan dan di mana bisa dilakukan wawancara. Hingga sampailah pada seorang responden wanita, yang…..sebut saja namanya Mawar. Tap! Kuketuk telepon ke nomornya. Singkat cerita, aku dan mawar telah sepakat. Kami akan bertemu hari Jumat, pukul 14.00 WITA di rumahnya untuk wawancara.

Lanjutkan membaca Diseret Responden ke Kantor Polisi

Dua Tahun Berjuang

Malam ini aku tidak bisa tidur. Teringat memori dua tahun lalu, harus berangkat ke perantauan. Harus berangkat memulai kompetisi kehidupan. Karena satu hal; penempatan.

Dua tahun sudah aku di tanah rantau, alih-alih mengabdi untuk ibu pertiwi. Jika boleh jujur, ada ratusan hal yang bisa aku syukuri di tanah perantauan, meskipun sebenarnya masih ada ribuan hal yang bisa aku keluhkan. Namun tetap, aku punya pilihan untuk menunjukkannya, atau menerima begitu saja.

Salah satu hal terberat yang sering aku keluhkan adalah jauh dari ayah dan ibu. Masih teringat jelas senyum dan tatapan sok tegar dari bapak dan ibuku ketika anak terakhirnya ini harus berangkat ke pulau seberang. Demikian pula denganku, melemparkan senyuman palsu untuk menunjukkan bahwa ā€œiya, aku bisa masak sendiri kok Bu, aku bisa mengurus diri sendiri kok Pak. Aku baik-baik saja.ā€ Padahal nyatanya, aku sama sekali belum tau.

Lanjutkan membaca Dua Tahun Berjuang