Sepucuk Surat Untuk Ibu

Sebuah kisah fiksi.

Matahari muncul malu-malu ditemani lembayung langit pagi. Riuh tilawah Alquran dalam masjid berangsur sunyi. Satu per satu jemaah melaksanakan salat Isyroq, kemudian mengistirahatkan badan seusai lelah menghidupkan malam.

“Bip!”, telepon genggamku berbunyi, “Aku pamit pulang kampung dulu. Jaga tanah rantau baik-baik, ya, Mas!”, sebuah pesan dari sahabat baikku, sontak menyemarakkan kerinduan pada kampung halaman.

Ini adalah kali ketigaku menghabiskan bulan Ramadan di perantauan. Biasanya, Ramadan adalah momen bersama keluarga. Berbuka bersama keluarga dan bercengkerama usai tarawih selalu menambah kehangatan Ramadan. Ah, aku jadi makin rindu.

Tak dapat menahan rasa, di pojok masjid aku mencoba bercerita lewat pena pada orang yang paling kurindu: Ibu.

Lanjutkan membaca Sepucuk Surat Untuk Ibu

Tabik!

Tabik, sebuah kata yang baru kukenal dari membaca karya Bang Fiersa, yang artinya adalah suatu ungkapan untuk memberi salam. Akhir-akhir ini aku senang membaca memang. Dan sejak senang membaca, entah mengapa aku jadi senang menulis juga. Menulis banyak hal, tentang kebahagiaan, kekecewaan, pencapaian, hingga mungkin hal remeh-cemeh yang tiba-tiba muncul di angan.

Menulis ternyata menyenangkan: cukup melegakan dan menghibur hati yang kesepian. Kita bisa tersenyum saat membaca lagi tulisan kita. Entah senyum malu, bahagia, atau gumam “kok tulisanku sebodoh ini ya”. Meskipun seringkali menulis membuat frustrasi karena ide mentok di tengah tulisan atau bingung pilihan kata yang harus aku gunakan. Hehe. Lanjutkan membaca Tabik!